/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Jumat, 10 Februari 2012

CARA IVESTASI REKSA DANA

Reksadana itu apa sih? A: Pada dasarnya, reksadana adalah bentuk investasi secara kolektif. Berhubung persyaratan investasi awal di instrumen-instrumen investasi seringkali berjumlah besar dan pemilihan instrumen investasinya pun tergolong rumit, maka masyarakat diberikan kesempatan oleh Bapepam-LK untuk mengumpulkan dana mereka ke dalam wadah investasi untuk kemudian dikelola secara profesional. Jadi, investasi ini dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional seperti Manulife, Fortis, Schroder, Trimegah, Danareksa, Bahana, dll. Nah MI ini nantinya akan mengelola dana yang sudah terkumpul tersebut dengan meng investasikannya ke berbagai macam produk investasi (Saham, deposito, surat utang, dll). Biasanya setiap MI mempunyai beberapa produk, contohnya untuk Fortis diantaranya Fortis Pesona, Fortis Equitra, Fortis Solaris dan Fortis Ekuitas. Nanti ada penjelasannya lagi tuh untuk setiap produk. Misalnya Fortis Ekuitas itu biasa mengelola dana yang ada untuk membeli saham apa aja, misalnya; Astra International, Telkom, Bank Mandiri, Perusahaan Gas Negara dan lain sebagainya. Jadi kita tidak terjun langsung memilih saham yang mau kita beli karena semua itu akan dikelola oleh MI. Oh iya dalam bahasa Inggris, reksadana dikenal dengan nama mutual fund. Tapi seperti yang Wina selalu bilang, sebelum memutuskan untuk membeli produk investasi, kita harus tahu dan jelas dulu tujuan investasi kita itu untuk apa? Dari situ barulah bisa ditentukan reksadana apa yang cocok, berapa lama investasinya, dan berapa besar jumlah investasinya. Q: Apa untungnya reksadana dari menabung secara tradisional atau langsung membeli saham sendiri? A: Reksadana menawarkan return yang lebih tinggi daripada menabung traditional/deposito. Seperti kata pepatah investasi, “high risk high return, low risk low return”, jadi berinvestasi lewat reksadana membuka peluang risiko yang lebih tinggi dari deposito namun dengan peluang hasil yang lebih tinggi pula. Selama risiko tersebut bisa kita ambil (misal: kebutuhan dana baru direalisasikan 10 tahun lagi), maka investasi pada reksadana saham contohnya, menjadi masuk akal. Bandingkan potensi imbal hasil deposito (yang cuma sekitar 6% per tahun) dengan reksadana saham (bisa mencapai 20% lebih per tahun)! Tapi ingat ya, “high risk high return, low risk low return”. Kalau dibandingkan dengan membeli saham langsung, membeli reksadana saham jelas lebih simple untuk kita dan juga memberikan peace of mind karena investasi kita tidak disalurkan kepada 1 jenis saham saja, melainkan bermacam-macam instrumen (diversifikasi). Jadi ketika misalnya saham Telkom turun, kita tidak serta merta panik karena dana kita hanya sebagian saja disitu dan yang lainnya masuk ke saham Bank Mandiri atau Astra International yang mungkin justru naik misalnya. Dari segi biaya juga lebih ringan karena sifatnya yang kolektif ini dimana biaya transaksi saham tersebut ditanggung bersama-sama dengan investor lainnya. Q: Trus, belinya dimana? A: Reksadana dapat dibeli di Bank seperti Bank Mandiri, HSBC, Commonwealth dan bisa juga dibeli ke MI nya langsung. Tidak semua MI menawarkan pembelian langsung sih dan jumlah minimum pembelian pun bisa lebih besar atau lebih kecil dari bank. Tapi biasanya, biaya pembelian langsung lewat MI lebih murah (ya iya lah kan ga lewat makelar, beli rumah juga gitu kan?) (Kalau saya lewat Commonwealth Bank karena ada fasilitias Internet Bankingnya, jadi bisa beli reksadana lewat online, feenya juga jadi lebih murah. – Hanzky) Q: Lalu, bagaimana saya tahu reksadana jenis apa yang harus saya beli? A: Pertama-tama, kita harus tau dulu untuk apa kita berinvestasi. Untuk kuliah anak? Untuk beli rumah? Untuk dana liburan? Kapan rencananya uangnya akan dipakai? 3 tahun lagi? 10 tahun lagi? Setelah kita tahu kebutuhan kita, barulah kita memilih jenis yang sesuai dengan kebutuhan dan toleransi risiko kita, berapa lama kita perlu berinvestasi dan berapa besarannya. Baru setelah itu kita teliti jenis reksadana yang ada, yang sesuai dengan tujuan kita Q: Apa aja sih macamnya reksadana? A: Basically, ada 4 jenis reksadana 1. Reksadana Pasar Uang (RDPU) dengan potensi imbal hasil 7% per tahun (asumsi rata-rata target jangka waktu investasi < 5 tahun yang mana termasuk kategori short-term). Ini adalah reksadana jangka pendek dengan risiko yang relatif paling kecil. Dana dalam reksadana ini akan ditempatkan pada instrumen pasar uang seperti tabungan, deposito atau surat utang di bawah 1 tahun. Jadi hampir tidak ada gejolak perubahan harga, tapi imbal hasilnya pun juga relatif paling kecil dibanding reksadana lainnya. Contoh Produk: PNM PUAS, Danareksa Seruni, Bahana Dana Likuid, Manulife Dana Kas, dll. 2. Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT) dengan potensi imbal hasil 10% per tahun (asumsi rata-rata target jangka waktu investasi 5-10 tahun atau medium term) RDPT adalah reksadana dengan risiko yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan RDPU namun potensi imbal hasilnya pun lebih tinggi. Dana pada RDPT ditempatkan pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) maupun surat utang (obligasi) yang dikeluarkan oleh korporasi (misal obligasi Kalbe Farma atau obligasi Indofood). Kalau mau beli RDPT harus liat juga apa usia reksadananya sudah mau 5 tahun/belum. Ini kaitannya dengan pajak sih, RDPT dengan usia lebih dari 5 tahun kehilangan keringanan pajak dari pemerintah, tapi biasanya MI akan mengakali dengan membuat RDPT baru dan memindahkan investasi RDPT lama ke RDPT baru untuk mendapatkan keringanan pajak. Ini biasanya diatur otomatis oleh MI-nya, jadi investor tidak perlu khawatir. Contoh Produk: Batavia Dana Obligasi Ultima, Danareksa Melati, Mandiri Investa Keluarga, Manulife Obligasi Negara Indonesia, Trim Dana Stabil. 3. Reksadana Campuran (RDC) dengan potensi imbal hasil hingga 20% per tahun (asumsi rata-rata target jangka waktu investasi > 10 tahun atau Long Term. Reksadana ini menggunakan instrumen investasi campuran antara saham dan obligasi, jadi cocok buat yang ingin mencoba investasi saham tapi masih takut perutnya mual karena roller coaster harga saham yang drastis dan cepat. Contoh Produk: Schroder Dana Prestasi, Schroder Dana Terpadu II, Fortis Equitra, Fortis Pesona (sangat agresif, mostly saham), Manulife Tumbuh Berimbang, Trim Syariah Berimbang 4. Reksadana Saham (RDS) dengan potensi imbal hasil hingga 25% per tahun (asumsi rata-rata jangka waktu investasi > 10 tahun atau Long Term Reksadana ini menggunakan instrumen investasi saham. Dibandingkan dengan reksadana lainnya, RDS memiliki potensi imbal hasil yang paling tinggi, namun juga memiliki tingkat risiko yang paling tinggi pula. Sebagai contoh, pada tahun 2008-09 di mana dunia dilanda krisis ekonomi global, imbal hasil RDS sempat rontok sampai negatif 40%! (itu artinya Rp 10,000,000 investasi Anda menjadi bernilai Rp Rp 6,000,000) Meski di awal 2010 sudah pulih, tapi goncangan harga RDS cukup berbahaya untuk menjadikannya sebagai sarana investasi jangka pendek. RDS diperuntukkan hanya untuk investor dengan tingkat toleransi risiko yang tinggi dan jangka waktu investasi yang panjang. Contoh Produk: Ekuitas, Fortis Pesona, Schroder Dana Istimewa, Schroder Dana Prestasi Plus, Schroder Dana Investa, Mandiri Investa Atraktif, Mandiri Investa Atraktif Syariah, Manulife Saham Andalan Ada juga sih reksadana lain semisal reksadana terstruktur, reksadana indeks, dan instrumen investasi lainnya seperti ORI, Sukuk Ritel, emas, etc. Tapi itu ntar aja dibahasnya biar nggak tambah bingung, yang empat di atas itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan investasi kita untuk mencapai berbagai kebutuhan finansial dari jangka pendek (liburan misalnya) sampai jangka panjang (biaya kuliah anak dan biaya pensiun kita sendiri misalnya). Akhir kata, saya ucapkan Selamat berinvestasi! — Gimana, gimana? Sudah ada pencerahan dong sekarang setelah membaca ini?. Kalau ada pertanyaan, silahkan tanya di comment box ya supaya bisa dijawab dengan Yoga. Kalau misalnya masih belum mengerti sampai ngelotok nggak papa kok, itu bukan alasan untuk menunda investasi reksadana. Langsung terjun aja, nanti pasti mengerti dengan sendirinya deh. Yang penting sekarang putuskan dulu mau ke bank mana dan segeralah samperin banknya untuk membuka rekening reksadana :

Tidak ada komentar: